Posted by: ibnughaz on: November 4, 2008
Assalamu’alaikum…saudaraku…
Blog ini akan tidak di login dan di update sampai waktu yang tidak ditentukan…
Jazakumullahi khoir atas kunjungan selama ini…
Untuk komunikasi,tetap menjalin ukhuwah antum silahkan email ana di ibnghaz_albinjai@yahoo.co.id …..
Atau antum hubungi ana di 0852767347140…
…
Wassalamu’alaikum….
Posted by: ibnughaz on: Oktober 9, 2008
Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Baz
Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Baz ditanya : Di rumah keluarga suami yang saya tinggali terdapat saudara-saudara suami yang mengerjakan shalat tetapi sangat jarang sekali. Mereka biasa duduk-duduk sekalipun imam telah shalat. Maka apa yang harus saya perbuat, sementara saya bukanlah termasuk mahramnya. Apakah saya mendapatkan dosa karena tidak bisa menasehatinya ?
Jawaban.
Jika tidak melaksanakan shalat maka ia berhak mendapatkan boikot. Jangan menyalaminya, jangan menjawab salamnya sampai ia bertaubat. Karena meninggalkan shalat adalah kekafiran yang besar, sekalipun ia tidak mengingkari akan kewajibannya. Ini merupakan pendapat yang kuat dari dua pendapat ulama. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Artinya : Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat. Barangsiapa yang meninggalkannya maka sungguh ia telah kafir”. [1] Baca entri selengkapnya »
Posted by: ibnughaz on: Agustus 6, 2008
Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Sebagian orang, beranggapan bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah dalam segala hal. Kami mohon perkenan Syaikh untuk menjelaskan batasan-batasan berbakti kepada kedua orang tua.
Jawaban
Berbakti kepada kedua orang tua adalah berbuat baik kepada keduanya dengan harta, bantuan fisik, kedudukan dan sebagainya, termasuk juga dengan perkataan. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan tentang bakti ini dalam firmanNya.
“Artinya : Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kemu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”. [Al-Isra : 23]
Demikian ini terhadap orang tua yang sudah lanjut usia. Biasanya orang yang sudah lanjut usia perilakunya tidak normal, namun demikian Allah menyebutkan.
“Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’, “
Yakni sambil merasa tidak senang kepada keduanya. Baca entri selengkapnya »
Posted by: ibnughaz on: Juli 28, 2008
Dari Abu Najih al-‘Irbadh bin Syariyah, ia mengatakan, “ Rasulullah memberikan nasehat kepada kami dengan satu satu nasehat yang menggetarkan hati dan membuat mata menangis karenanya. Maka kami mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, seolah-olah ini adalah nasihat orang yang akan berpisah, maka berwasiatlah kepada kami.’ Beliau bersabda,’Aku wasiatkan kepada kalian agar bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat, meskipun yang memerintah kalian adalah seorang hamba sahaya. sesungguhnya barangsiapa yang masih hidup diantara kalian sepeninggalku, maka ia akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, wajib atas kalian berpegang teguh dengan Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin al Mahdiyyin (para khalifah yg lurus lagi mendapat petunjuk). Gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham. Dan hati-hatilah terhadap perkara-perkara yg diada-adakan (dalam agama), karena setiap bid’ah adalah kesesatan.’” (HR. Abu Dawud dan at Tirmidzi, dan ia mengatakan,“Hadistinihasanshahih).
Perintah mengikuti sunnah telah disampaikan dalam hadits diatas. Seperti kita ketahui bersama, hukum pada dien ini adalah Alqur’an dan Sunnah. Apa-apa yang tidak ada penjelasan dalam Al Qur’an maka akan kita ketahui dari apa yang disampaikan dan diamalkan oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam melalui haditsnya, seperti adanya kewajiban bagi umat islam untu menegakkan shalat yang diperintahkan oleh Allah melalui Al Qur’an maka untuk mengetahui kaifiyat dan waktunya maka diperoleh dari penjelasan hadits.
Alhafidz Imam As Suyuthi berkata bahwa Al-Qur’an membutuhkan As-Sunnah adalah bahwa As-Sunnah menerangkan Al-Qur’an, As-Sunnah merinci segala ungkapan yang bersifat umum dalam Al-Qur’an, karena ungkapan dalam Al-Qur’an adalah ringkas dan padat hingga dibutuhkan seseorang yang mengetahui hal-hal yang tersembunyi dalam Al-Qur’an untuk diketahui dan yang mengetahui hal itu tidak lain hanyalah manusia yang diturunkan kepadanya Al-Qur’an yaitu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah yang dimaksud dari ungkapan bahwa As-Sunnah memutuskan (menetapkan) Al-Qur’an, dan Al-Qur’an diturunkan bukan untuk menerangkan As-Sunnah dan bukan untuk memutuskan (menetapkan) As-Sunnah, karena As-Sunnah sudah jelas dengan sendirinya, karena As-Sunnah belum sampai pada derajat Al-Qur’an dalam hal keringkasan dan dalam hal keajaibannya, karena As-Sunnah merupakan penjelasan Al-Qur’an, dan sesuatu yang menerangkan haris lebih jelas, lebih terang dan lebih mudah daripada yang diterangkan. Wallahu a’lam.
Maka dari itu untuk mengikuti sunnah rasul adalah kewajiban bagi umat ini tanpa adanya pengurangan atau melebih-lebihkan maknanya. Mentaati Rasul maka menjadi bagian mentaati Allah. Baca entri selengkapnya »
Posted by: ibnughaz on: Juli 27, 2008
Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Pertanyaan.
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Bolehkan membacakan Al-Qur’an untuk mayat, yaitu dengan menempatkan mushaf di rumah si mayat, lalu para tetangga dan kenalannya berdatangan, kemudian masing-masing membacakan satu juz umpamanya, setelah itu kembali ke pekerjaannya masing-masing, namun untuk bacaan itu mereka tidak diberi upah. Selesai bacaan, si pembaca mendo’akan si mayat dan menghadiahkan pahala bacaannya kepada si mayat. Apakah bacaan do’a itu sampai kepada si mayit dan mendapat pahala ? Saya mohon penjelasan. Terima kasih. Perlu diketahui, bahwa saya pernah mendengar sebagian ulama yang mengharamkan perbuatan ini secara mutlak, namun sebagian lagi ada yang memakruhkan dan sebagian lainnya membolehkan.
Jawaban.
Perbuatan ini dan yang serupa itu tidak ada asalnya, tidak diketahui bahwa itu berasal dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak diriwayatkan pula dari sahabat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka membacakan Al-Qur’an untuk mayat, bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda.
“Artinya : Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang tidak kami perintahkan maka itu tertolak”. [Dikeluarkan oleh Muslim dalam Al-Aqdhiyyah (18-1718) dan Al-Bukhari menganggapnya mu'allaq namun menguatkannya] Baca entri selengkapnya »
Posted by: ibnughaz on: Juli 16, 2008
(oleh Abu Abdillah Muhammad Elvi Syam, Lc)
Syaikh Rabee merupakan salah seorang masyayekh salafiyin yang kita hormati, kita dengar ucapannya, kita jadikan beliau sebagai rujukan kita. Penulis alhamdulillah diberi nikmat oleh Allah untuk bisa bertemu, belajar dan menimba ilmu dari beliau. Semasa kuliah di Madinah dan setelahnya penulis alhamdulillah sering berkunjung ke rumah beliau. Nasehat-nasehat beliau sangat berharga bagi kita yang ingin mencari kebenaran.
Namun bagi sebagian orang yang ingin memperturutkan hawa nafsunya. Dia akan dikendalikan oleh hawa nafsunya, sehingga dia akan mengambil dalil dan perkataan ulama sesuai dengan selera hawa nafsunya. Maka merekapun tidak segan-segan berdusta atas nama syeikh untuk mempertahankan sikapnya yang salah.
Banyak di antara orang yang mengaku salafiy, melakukan tindakan keras, dan kasar atas nama syeikh. Membuat keributan dan perpecahan, permusuhan antara teman. Sehingga ada suami istri yang bercerai, adek kakak tidak tegur sapa, malahan anak dengan orang tua tidak berbaikan, apalagi dengan teman lamanya. Malahan di antara mereka menganggap bahwa syeikh rabee selalu menyuruh untuk bersikap keras dan kasar. Namun kalau dilihat nesehat-nasehat syeikh, realitanya berbeda 190 derajat. Nasehat ini penulis ambil dari situs sahab, yang dikumpulkan oleh Abu Rumaysha’ Jawad al-maghribiy.
Posted by: ibnughaz on: Juli 16, 2008
Rosulullah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim yang artinya: “Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal darah. jika segumpal darah tersebut baik maka akan baik pulalah seluruh tubuhnya, adapun jika segumpal darah tersebut rusak maka akan rusak pulalah seluruh tubuhnya, ketahuilah segumpal darah tersebut adalah hati.” (Yang lebih benar untuk penyebutan segumpal darah (القلب ) tersebut adalah jantung, akan tetapi di dalam bahasa Indonesia sudah terlanjur biasa untuk menerjemahkan القلب dengan “hati”).
Maka hati bagaikan raja yang menggerakkan tubuh untuk melakukan perbuatan-perbuatannya, jika hati tersebut adalah hati yang baik maka seluruh tubuhnya akan tergerak untuk mengerjakan hal-hal yang baik, adapun jika hatinya adalah hati yang buruk maka tentunya juga akan membawa tubuh melakukan hal-hal yang buruk. Hati adalah perkara utama untuk memperbaiki manusia, Jika seseorang ingin memperbaiki dirinya maka hendaklah ia memperbaiki dahulu hatinya!!!
Ketahuilah, hati ini merupakan penggerak bagi seluruh tubuh, ia merupakan poros untuk tercapainya segala sarana dalam terwujudnya perbuatan. Hati laksana panglima yang memompa pasukannya untuk melawan musuh atau melemahkan mereka sehingga mundur dari medan peperangan. Karena hati disifatkan dengan sifat kehidupan dan kematian, maka hati ini juga dibagi dalam tiga kriteria yakni hati yang mati, hati yang sakit dan hati yang sehat. Baca entri selengkapnya »
Posted by: ibnughaz on: Mei 15, 2008