Posted by: ibnughaz on: Mei 13, 2008
Oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
Oleh karena itu, kami selalu mendengungkan setiap saat dan selalu memfokuskan pada seputar dua point mendasar yang merupakan kaidah perubahan yang benar. Keduanya adalah Tashfiyah (pemurnian) dan Tarbiyah (pendidikan), kedua hal ini mesti berjalan bersama-sama sekaligus, yaitu tashfiyah dan tarbiyah.
Jika dalam suatu negeri terdapat suatu jenis dari tashfiyah, yaitu tashfiyah dalam hal aqidah, maka hal ini termasuk peristiwa yang sangat besar yang terjadi dalam masyarakat Islam yang merupakan bagian bangsa di antara bangsa-bangsa lain.
Adapun dalam hal ibadah, maka perlu membebaskan ibadah itu dari fanatik madzhab yang sempit dan berusaha kembali kepada sunnah yang shahih. Kadang-kadang terdapat ulama besar yang memahami Islam dengan pemahaman yang shahih dari segala sisi, tetapi saya tidak yakin bahwa ada satu, dua, tiga, sepuluh atau dua puluh orang saja mampu menegakkan kewajiban mengadakan tashfiyah (pemurnian) Islam dari setiap apa yang masuk ke dalamnya, baik dalam hal aqidah, ibadah atau akhlak.
Sesungguhnya orang yang sedikit tidak akan mampu menunaikan kewajiban ini, yaitu kewajiban mengadakan tashfiyah (pemurnian) dari apa-apa yang melekat dengan Islam berupa hal-hal yang masuk ke dalam Islam (padahal sebenarnya bukan dari Islam) serta kita harus mendidik orang-orang di sekitar kita dengan tarbiyah (pendidikan) yang benar dan lurus, akan tetapi tashfiyah dan tarbiyah sekarang ini telah hilang.
Oleh karena itu, gerakan politik di masyarakat Islam manapun yang tidak berhukum dengan syari’at (Islam) akan menghasilkan dampak yang buruk sebelum kita merealisasikan dua masalah penting ini.
Adapun nasehat itu dapat menggantikan posisi gerakan politik di negeri manapun yang berhukum dengan syari’at, dengan cara musyawarah atau menyampaikan nasehat dengan cara yang lebih baik sesuai dengan batasan-batasan syar’i yang jauh dari bahasa pemaksaan atau pendiskriminatifan. Menyampaikan nasehat itu akan menegakkan hujjah dan membebaskan kita dari dosa.
Posted by: ibnughaz on: Mei 13, 2008
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Bin Baz rahimahullah ta’ala ditanyakan :
Apa pendapat syaikh terhadap orang yang memberi gelar dengan sebutan as-Salafi atau al-Atsari, apakah hal itu merupakan suatu tindakan pensucian ?
Beliau menjawab :
Apabila hal itu benar adanya bahwasanya ia adalah atsari atau ia adalah salafi maka boleh-boleh saja, seperti manhaj para salaf, mereka menyebutkan, fulan adalah salafi atau fulan adalah atsari, sebuah tindakan pensucian yang harus dilakukan, yaitu pensucian yang wajib.
(Diambil dari buku Fatwa-Fatwa Terlengkap, Seputar Terorisme, Jihad dan Mengkafirkan Muslim)
Posted by: ibnughaz on: April 9, 2008
As Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi ditanyakan :
“Sebagian pemuda muslim merasa risih dan keberatan untuk mengatakan “Saya Salafi”, apakah yang anda nasehatkan kepadanya ?”
Jawab :
Mengapa merasa risih dan keberatan untuk mengatakannya? Apakah dia memandang bersandar kepada Salafiyyah adalah perkara yang akan membuat mundur dan terbelakang?. Bukanlah bersandar kepada Salafiyyah adalah bersandar kepada para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dari kalangan para fuqaha’, ahlul hadits, ahli tafsir, dan orang-orang yang memiliki aqidah yang benar disetiap tempqt dan waktu, mereka semua adalah orang-orang yang mengikuti kebenaran dalam Alqur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih diatas pemahaman para pendahulu yang shalih! Apakah bersandar kepada mereka menyebabkan kemunduran dan ketebelakangan sehingga dia merasa risih dan berat? Innalillahi wa inalillahi raji’un.
Adapun jika ada orang yang berusaha memahami manhaj salaf dan mengikutinya kemudian mengatakan “saya seorang salafi”. Orang yang demikian, Insyaallah kita bisa mengharapkan darinya kebaikan. Namun bila merasa enggan dan berat untuk mengatakan “Saya Salafi” bisa jadi dia akan tertimpa adzab dan balasan yang jelek karenanya.
(Dinukil dari Buku Menyingkap Kejahatan Aliran-Aliran Sesat karya As Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi )
Posted by: ibnughaz on: April 3, 2008
Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Ilmu yang bermanfaat dapat diketahui dengan melihat kepada pemilik ilmu tersebut. Di antara tanda-tandanya adalah:
[1]. Orang yang bermanfaat ilmunya tidak peduli terhadap keadaan dan kedudukan dirinya serta hati mereka membenci pujian dari manusia, tidak menganggap dirinya suci, dan tidak sombong terhadap orang lain dengan ilmu yang dimilikinya.
Imam al-Hasan al-Bashri (wafat th. 110 H) rahimahullaah mengatakan, “Orang yang faqih hanyalah orang yang zuhud terhadap dunia, sangat mengharapkan kehidupan akhirat, mengetahui agamanya, dan rajin dalam beribadah.” Dalam riwayat lain beliau berkata, “Ia tidak iri terhadap orang yang berada di atasnya, tidak sombong terhadap orang yang berada di bawahnya, dan tidak mengambil imbalan dari ilmu yang telah Allah Ta’ala ajarkan kepadanya.” [1]
[2]. Pemilik ilmu yang bermanfaat, apabila ilmunya bertambah, bertambah pula sikap tawadhu’, rasa takut, kehinaan, dan ketundukannya di hadapan Allah Ta’ala. Baca entri selengkapnya »
Posted by: ibnughaz on: Maret 17, 2008
Rasulullah SAW berkata kepadaku, Wahai Abudurrahaman bin Samurah, janganlah engkau meminta menjadi pemimpin. jika engkau menjadi pemimpin karena meminta, maka engkau akan dibiarkan. jika engkau menjadi pemimpin karena diminta, mak engkau akan dibantu (Shaih Bukhori)
Posted by: ibnughaz on: Maret 7, 2008
Hadis riwayat Zaid bin Khalid Al-Juhaini ra., ia berkata:
Rasulullah saw. melakukan salat bersama kami di Hudaibiyah, sesudah hujan turun semalam. Seusai salat, beliau mendatangi para sahabatnya, lalu bersabda: Tahukah kalian apa yang telah difirmankan Tuhan kalian? Para sahabat menjawab: Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu. Beliau bersabda: Allah berfirman: Di antara hamba-hamba-Ku ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir di pagi ini. Orang yang berkata: Kita diturunkan hujan karena anugerah dan rahmat Allah, maka orang itu beriman kepada-Ku dan mengingkari bintang-bintang. Sebaliknya orang yang berkata: Kita diturunkan hujan oleh bintang ini atau bintang itu, maka orang tersebut kafir terhadap-Ku dan beriman kepada bintang-bintang( HR. Muslim)
Posted by: ibnughaz on: Maret 6, 2008
Hati-Hati Dengan Cinta
Oleh : Abu Uzair Boris Tanesia
Cinta sebuah kata yang sudah sangat dipahami oleh semua orang. Sebuah perasaan yang dengannya seseorang mau melakukan segala sesuatu demi mencapai apa yang dia cintai tersebut. Namun hakikatnya, cinta tidaklah hanya terbatas pada hubungan antara dua orang insan, bahkan lebih dari itu. Segala ibadah yang kita lakukan, kesemuanya itu tidak akan dapat kita lakukan jika tidak ada rasa cinta kepada zat yang kita sembah, yaitu Allah Ta’ala. Cinta adalah ruh penggerak yang mendorong seseorang beribadah, maka apabila cinta hilang, maka ibadah akan terasa hambar.Islam merupakan agama yang sangat luas, bahkan hingga dalam permasalahan cinta ini pun islam memberikan penjelasan serta batasan yang terang. Sehingga dengannya, diharapkan seorang muslim tidak tersesat oleh rasa cintanya tersebut.
Pembagian Cinta
Cinta yang dapat memberikan manfaat bagi seorang hamba antara lain:
1. Cinta Kepada AllahYakni cinta yang menyebabkan merendahkan diri dan mengagungkan yang dicintainya tersebut serta menumbuhkan rasa taat untuk melaksanakan perintah dan menjauhi segala larangan yang dicintainya tersebut. Cinta seperti ini khusus untuk Allah semata dan tidak boleh ditujukan kepada selain-Nya. Sebagaimana firman Allah,
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللّهِ أَندَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللّهِ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبّاً لِّلّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُواْ إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلّهِ جَمِيعاً وَأَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (QS. Al Baqoroh: 165)
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللّهِ أَندَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللّهِ وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبّاً لِّلّهِ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُواْ إِذْ
يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلّهِ جَمِيعاً وَأَنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (QS. Al Baqoroh: 165)